Biografi Pendiri Nahdlatul Wathan

Biografi Pendiri Nahdlatul Wathan Biografi Pendiri Nahdlatul Wathan Biografi Pendiri Nahdlatul Wathan Biografi Pendiri Nahdlatul Wathan Biografi Pendiri Nahdlatul Wathan Biografi Pendiri Nahdlatul Wathan Biografi Pendiri Nahdlatul Wathan Biografi Pendiri Nahdlatul Wathan Biografi Pendiri Nahdlatul Wathan

Di kepulauan Seribu Masjid, Lombok Nusa Tenggara Barat barang

kali tidaklah asing bila mendengar nama Syaikh Zainuddin atau sering disebut Maulana Syaikh. Karir dan kehidupannya banyak memberi mamfaat dalam konteks perubahan dan pembaharuan di pulau tersebut.


Hal inilah yang barangkali membuka mata hati kita dan para peneliti lainnya untuk menyibak tabir yang tersembunyi dibalik kehidupan beliau. Sehingga nama beliau sulit rasanya dipisahkan dengan corak keagamaan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Syaikh Zainuddin adalah putra dari pernikahan TGH. Abdul Majid dengan Hj. Halimatu as-Sa’diyyah. Ia lahir di Bermi Pancor Lombok Timur NTB pada hari rabu, 17 Rabiul Awwal 1326 H/ 1904 M [7]. Namun ada sebagian yang mengatakan bahwa Ia lahir pada 1324 H / 1906 M dan di tanggal yang sama [8].

Syaikh Zainuddin adalah nama panggilan akrab beliau dari hari ke hari terutama setelah kepulangan beliau dari tanah suci.

Nama aslinya adalah Muhammad as-Saggaf [9] yang merupakan nama sewaktu muda, kemudian diganti oleh ayahnya sendiri dengan nama H. Muhammad Zainuddin [10] setelah menunaikan ibadah haji [11]. Selain Maulana Syaikh yang sekaligus julukannya, beliau juga sering disebut dengan sebutan Abu Raihan Wa Raihanun yang dinisbahkan pada kedua putri beliau yaitu Hj. Siti Rauhun dan Hj. Siti Raihanun.

Disamping itu, juga beliau dijuluki dengan Abul Masajid, Abul Masakin. Bahkan sebelumnya terutama dipermulaan kehadiran beliau di tanah Lombok, beliau disebut sebagai Tuan Guru Bajang yang berarti “Tuan Guru Muda” [12]. Selanjutnya beralih pada sebutan Tuan Guru Pancor dikarenakan banyaknya Tuan Guru-Tuan Guru lain yang bermunculan termasuk dari kader serta murid beliau.

Dan setelah menetap di Lombok barulah beliau dikenal dengan sebutan Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid. Syaih Zainuddin yang merupakan anak bungsu dari enam bersaudara yakni kakak pertamanya Siti Syarbini, kemudian Siti Cilah, lalu Hj. Saudah, baru H. Muhammad Sabur dan Hj. Masyitah [13], amat dikenal oleh kawan-kawannya dengan sosok jujur, cerdas dan pemberani begitu juga dengan sopan santunnya yang berbeda dari kebanyakan anak-anak pada masa itu.

Sifat serta sikap kehidupan yang berbeda dari kebanyakan temannya pada saat itu, membuatnya terposisikan dan disegani teman sepermainannya. Dan barang kali tidaklah mengherankan, dimana beliau terlahir di tengah-tengah keluarga sholihah, dan ayahnya sendiri merupakan seorang Tuan guru besar saat itu yang dikenal dengan sebutan “Guru Mukminah”.

Dan tidaklah berlebihan bila perhatian dan kasih sayang yang diberikan kedua orang tuanya agak sedikit berbeda dengan perhatian pada saudara-saudara yang lain sampai pada tingkat pendidikan yang diperolehnya. Hal itu dibuktikan dengan ditemaninya saat mengenyam pendidikan di as-Saulatiyyah Makkah, kemudian dicarikannya guru yang dianggap memiliki kapasitas serta kredibilitas tinggi.

Tidak hanya itu, Perhatian serta doa [14] yang diberikan pada putranya itu tidak henti, dan selalu diucapkan sampai menghembuskan nafas terakhir, beliau dimakamkan di Mu’alla Makkah. Sebelum memasuki pendidikan formal Syaikh Zainuddin diusianya yang ke-5 tahun untuk pertama kalinya belajar di lingkup keluarga bimbingan ayahnya sendiri TGH. Abdul Majid dengan mata pelajaran al-Quran, nahwu sarof, fiqih dll.

Kemudian baru pada usia yang ke-9 tahun Ia memasuki pendidikan formal di Sekolah Rakyat Negeri Selong Lombok Timur dalam kurun waktu 4 tahun di tahun 1919 M. Seusai itu orang tuanya menyerahkan lagi untuk mengkaji agama secara mendalam melelui beberapa Tuan guru setempat [15] dengan beberapa materi yang dikenal saat itu.

Selanjutnya di usia yang ke-17 (1341 H/ 1923 M) beliau diberangkatkan haji oleh orang tuanya bersama 3 saudara kandung dan menetap di Makkah. Di sini Syaikh Zainuddin tidaklah langsung memasuki sekolah formal sebagaimana lazimnya, melainkan beliau belajar secara privat dari beberapa ulama ternama waktu itu.

Untuk yang pertama kalinya beliau belajar pada Syeikh Marzuki salah seorang tenaga pengajar di Masjidil Haram. Namun kemudian sempat tersendat dikarenakan satu dan lain hal [16], Ia kemudian belajar pada Syeikh Amin al-Qutbi seorang Ahli Sastra kenamaan, selanjutnya pada Syeikh Sayyid Muhsin al-Palembangiy dengan mempelajari beberapa materi pelajaran secara spesifik.

Beberapa bulan setelah itu, tepatnya pada tahun 1928 barulah Ia memasuki sekolah formal di sebuah Madrasah Legendaris yakni “Madrasah as-Saulatiyyah” (1364 H/1927 M) yang pada saat itu dipimpin oleh Syaikh Salim Rahmatullah dan di sana Ia banyak berkenalan dengan sejumlah ulama ulama besar seperti Syeikh Muhammad Hasan al-Masysyath, Syeikh Sayyid Muhammad al-Musawa.

Dan di sinilah Ia digembleng dengan dengan ilmu pengetahuan melalui tahap-tahap pengujian oleh rektor mMadrasah serta beberapa tenaga pengajar [17]. Karir Syaikh Zainuddin khsusnya dilingkup sekolah maupun di luar banyak dikenal oleh guru-guru serta teman temannya karena kecerdasan, kelemah-lembutan dan kefasihan dalam berdialog baik dikalangan sekolah maupun tingkat aliran yang menyebar saat itu.

Hal ini diakui oleh kawan sekelasnya yaitu Syaikh Zakaria Abdullah Bila, dalam sebuah ungkapanya :“Saya teman seangkatan Syaikh Zainuddin, saya bergaul dekat bersamanya beberapa tahun. Saya sangat kagum dengannya. Dia sangat cerdas akhlaknya mulia, dia sangat tekun belajar sampai-sampai jam keluar mainpun diisinya dengan menekuni kitab pelajaran dan berdiskusi dengan kawan-kawannya”[18].

Hal yang serupa juga dikatakan oleh gurunya Syaikh Sayyid Muhammad Amin al-Kutbi dalam sebuah ungkapan Syair:

 لله زين الدين في فضله # في مجده السامي و في نيلهله يد بيضاء دلَّت على # جوهرة المكنون في اصلهله تأليف كزهرة الربا # قد ضمَّت الشكلُ الى شكله 
“Demi Allah saya kagum pada Zainuddin # Kagum dari kelebihan atas orang lain. Kesabaran dan ketulus ikhlasannya menunjukkan # bahwa ia laksana permata di antara bebatuan. Jasa dan karyanya semerbak mewangi bagai bunga di tengah kawanan # yang terangkai dalam karangan indah di lereng pegunungan”. [19] 

Dan masih banyak ungkapan-ungkapan serupa baik yang disampaikan secara langsung maupun tidak langsung oleh segenap civitas akademika serta kawan-kawan sekelasnya sebagai seorang santri sekaligus mahasiswa yang merujuk pada konteks di atas. Namun hal itu tidak membuat beliau lantas kemudian terlena dengan belaian pujian, melainkan hal tersebut sebagai aset spirit introspektif dalam konteks peningkatan diri dari hari ke hari.

Dan tepatnya pada tahun 1351 H/ 1933 M atau 1352 H/1934 M, Ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan predikat “Mumtaz” atau sekarang dikenal dengan Cumlaude dengan perolehan nilai 10 pada masing-masing mata kuliah. Dan sebagai konsekuensi akademis, pihak civitas akademika menganugerahinya tanda bintang sebagai penghargaan atas prestasinya. Dan lengkaplah bahwa Ia Syaikh Zainuddin belajar di tanah suci kurang lebih selama 12 tahun terhitung sejak Ia bermukim di Makkah.
1 2 3 4 5
PUSTAKA
  • [1] Dipresentasikan pada Seminar Kajian al-Quran dan Budaya_Juli 2010
  • [2] Pembahasan luasnya mengenai masalah ini sudah dijelaskan para sejarawan muslim salah satunya adalah Hudhari Bik, Tarikh at-Tasyri’ul Islam (Semarang: Darul Ihya’, 1980), 246 dst. .
  • [3] Periwayatan serta pemikiran tentang hal ini sudah banyak dimuat dalam buku-buku keislaman. Baca Mahmud Abu Royyah, Adhwa ‘Alas-Sunnah al-Muhammadiyyah (Mesir: Darul-Ma’arif, 1957), hlm. 39-40. Juga baca Yusuf al-Qaradawi, Kaifa Nata’ammal Ma’a as-Sunnatin-Nabawiyyah (Kairo: Darusy-Syuruqul, cet II. 1423 H/ 2002 M), hlm. 65, al-Madkhal Liddirasatis-Sunnatin-Nubuwwah. Terj (Kairo: Maktabah Wahbah, cet. II, 1991), hlm. 113
  • [4] Periode yang penulis maksud adalah dimulai dari pemerintahan Muawiyyah bin Abu Shofiyan 41 H setelah merampas paksa kepemimpinan ‘Ali ibn Abi Thalib.
  • [5] Ia menulis surat kepada salah satu karyawannya di Madinah yakni Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm : ” Lihatlah Hadis-hadis Rasulullah saw, atau Sunnah beliau yang ada, kemudian tulislah karena sesungguhnya saya takut terhapusnya ilmu dan perginya ulama. (HR. Imam Malik dalam al-Muwatta’ melalui periwayatan Muhammad bin Hasan). Baca Hudari Bik Tarikh, hlm. 299
  • [6] Kadang sering disebut dengan istilah “Pulau Seribu Masjid’ sebagaimana Aceh dikenal dengan “ Serambi makkah”.
  • [7] Afifuddin Adnan, Pelajaran ke-NW-an untuk madrasah dan Sekolah NW (Pancor: Biro Dakwah YPHPPD NW, 1983), hlm. 23
  • [8] Abdul Hayyi Nu’man, dkk Nahdlatul Wathan Organisasi Pendidikan Sosial dan Dakwah (Pancor: PDNW Lombok Timur, t.th), hlm. 148
  • [9] Saggaf artinya tukang yang memperbaiki atap . Asalnya adalah bahasa Arab dari kata “Saqqap” kemudian diindonesiakan menjadi “Saggap” serta disasakkan menjadi “Segep”. Pemberian nama ini dilatar belakangi beberapa peristiwa yakni tiga hari sebelum beliau dilahirkan. TGH. Abdul Madjid didatangi orang waliyullah masing-masing dari Hadramaut dan Magrabi. Kedua waliyullah itu secara kebetulan mempunyai nama yang sama, yakni “Saqqaf”. Kedua waliyullah itu berpesan kepada TGH. Abdul Madjid supaya anaknya yang akan lahir itu diberi nama “Saqqaf”
  • [10] Pemberian nama ini diambil dari nama ulama besar tenaga pengajar di Masjidil Haram yakni Syaikh Muhammad Zainuddin Serawak
  • [11] Abdul Hayyi Nu’man, dkk, Organisasi Nahdlatul Wathan: Organisasi Pendidikan, Sosial dan Dakwah (Selong: PDNW Lombok Timur, 1988), hlm. 148
  • [12] Tuan Guru Bajang atau Tuan Guru Muda, bisa berarti seseorang yang memiliki tingkat keilmuan yang mengungguli ilmu ilmu tingkat para Ulama yang didukung dengan fisik muda.
  • [13] Muhammad Noor,dkk Visi Kebangsaan Religius: Refleksi Pemikiran dan Perjuaangan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, 1904-1997(Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 2004), hlm. 10 dst..
  • [14] Doa yang selalau diucapkan orang tuanya kepada syaikh Zainuddin adalah “Semoga engkau mendapat ilmu yang barokah”, sambil berjabat tangan serta terus memperhatikan kepergian beliau sampai tidak terlihat lagi oleh pandangan mata. Pernah suatu ketika, beliau lupa pamit pada ibundanya. Beliau sudah jauh berjalan sampai ke pintu gerbang baru sang ibu melihatnya. Sang ibu memanggil beliau untuk kembali Beliau pun kembali. Lalu sang ibu mendoakan kemudian beliau berangkat
  • [15] Yakni TGH. Syarafuddin, TGH. Muhammad Sa’id, TGH. Abdullah bin Ama’ Dulaji
  • [16] Menurut pengamat sejarah bahwa pada saat itu terjadinya komplik perang saudara dari faksi Wahabiy melawan Syarif Husain.
  • [17] Abdul Hayyi Nu’man, Maulana Syeikh TGKH. Muhammad Zainuddin ‘Abdul Majid: Riwayat Hidup dan perjuangan(Mataram: PBNW, 1999), hlm. 148
  • [18] Ibid…hlm. 150
  • [19] Ini adalah potongan bait Syair yang diungkapkan sendiri oleh al-Kutbi. Dan sebenarnya ada bait berikut sebagai sambungannya sebagaimana tertera dalam pengantar Mi’raju asH-Shibyan. Baca Syaikh Zainuddin Mi’raju ash-Shibyan Ila Samiil Bayan(Pancor: PBNW, t.th), hlm. 4. Bandingkan dengan Syaikh Zainuddin Hizib Nahdlatul Wathan (Pancor: PBNW, t.th), hlm. 273-274.
  • [20] Lihat kembali Hayyi Nukman, dkk Nahdlatul Wathan…., hlm. 153-157 [21] Ibid…hlm. 172-174
  • [22] Lihat Syaikh Zainuddin At-Tuhfatu al-Anfenaniyah bi Syarhi Nahdlatu az-Zainiyya (Pancor: PBNW, t.th), hlm. 1-122
  • [23] Lihat Syaikh Zainuddin Al-Ad’Iyyah wa al-Mandzumatu ad-Diniyah (Pancor: Majelis Thullab, t.th)
  • [24] Lihat Syaikh Zainuddin Syarhu Mi’raju ash-Shibyan Ila Saami’I al-Bayan (Pancor: PBNW, T.th), hlm. 1-54

Tidak ada komentar: